Albert Einstein Quote

Agama Buddha adalah agama masa depan

Buddha Quote

Berpikir Di Sini dan Saat Ini

The Dalai Lama Quote

Agama Saya Sederhana. Agama Saya Adalah Kebaikan

Dhammapada 223

Kalahkan Keburukan Dengan Kebaikan

Vaddhana Quote

Dhamma adalah Jawaban dari Segala Pertanyaan

Tampilkan postingan dengan label Buddhisme dan Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddhisme dan Sains. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 April 2016

When Tilakkhana Meets Science: The Concept of Impermanence and Emptiness in Modern Physics

“Ardently do today what must be done. Who knows? Tomorrow, death comes.” (Bhaddekaratta Sutta). The Buddha taught that everything in the physical world, including mental activity and psychological experience, is marked with three characteristics: impermanence (anicca), suffering (dukkha) and no-self (anatta). The three marks of existence is known as tilakkhana. Can the ancient teaching be connected with modern science?  Here are some opinions where the concept of impermanence and emptiness meets modern Physics. 

Impermanence and Time

Impermanent truly are compounded things, by nature arising and passing away having arisen, when they are extinguished, their eradication brings happiness (Mahaparinibana Sutta). There is a strong connection between impermanence and what physicists have come to call the arrow of time. The fundamental laws of physics are time symmetric, i.e. they have no directionality with respect to time. If we had a movie of the earth rotating around the sun and we ran it backwards, we would not be aware of any fundamental laws being violated. If we observe an excited atom decay and emit a photon, that process is no more valid than if we observed a photon being absorbed by an atom and exciting it. Yet our lives are full of irreversible processes. We watch as people age – we never see people resume their youth. Stones are eroded by water in our rivers, they are never built up by the process! Despite the time symmetry of the fundamental laws, decay is all around us. This is captured by the Second Law of Thermodynamics which tells us that the entropy (fundamentally a measure of disorderliness) of the universe must of necessity increase over time.

Emptiness and Particles

“Form, monks, is not self. If, monks, form were self, then form would not lead to affliction, and one might be able to say in regard to form, ‘Let my form be thus, let my form not be thus.’ But since, monks, form is not-self, form therefore leads to affliction, and one is not able to say in regard to form, ‘Let my form be thus, let my form not be thus.” (Anattalakkhana Sutta). There are some connections between the concept of no self and particles. Particles cannot function as stand-alone entities. They can only interact with the rest of the universe by exchanging something of themselves. Their properties can only be known by their interactions with other particles, and thus cannot be completely accurately established. Particles are brought into existence by energetic events. The mother of all energetic events was the Big Bang, which brought most of the existing particles into existence. But natural energetic events such as cosmic rays and beta decay continue to produce particles. The tiniest particles do not have parts because they are physically indivisible. If even these smallest forms have parts, it follows that all gross forms that are composed of them also have parts.

Conclusion

The concept of tilakkhana, especially impermanence and no-self, have some connections with modern physics. Long time before scientist found out the quantum physics, relativity, and particles, Buddha had taught the essential truth about the nature of things. So, there is no contradiction between Buddhism and science on the concept of impermanence and no-self.

Kamis, 14 April 2016

Agama Buddha dan Teori Evolusi

Menurut Dhanariyo (2008) Buddhis memandang teori evolusi berdasarkan Buddha Vamsa, Aganna Sutta dan Cakkavati Sihanada Sutta dari Digha Nikaya. Menurut Buddha Vamsa manusia masa lampau tinggi besar, pernah suatu ketika tinggi manusia mencapai lebih dari sepuluh meter. Dan ukuran rata-rata manusia tidak selalu sama seperti yang dianggap oleh para ilmuwan selama ini, ukuran rata-rata dan usia rata-rata manusia berubah sejalan dengan waktu dan juga sejalan dengan tinggi atau rendahnya tingkat moral rata-rata manusia.
Dalam Cakkavati Sihanada Sutta bahwa umur manusia pada titik terendah moralnya hanya berusia sepuluh tahun, mungkin ukuran tubuh mereka juga akan semakin mengecil, mungkin tidak lebih tinggi dari setengah meter. Ini hanya suatu perkiraan tetapi bukan tidak mungkin hal ini akan terjadi. Seperti diketahui Pithecantropus erectus atau Pithecantropus mojokertensis yang merupakan suatu fossil yang tak terbantahkan, nampaknya bertolak belakang dengan teori evolusi Buddhis. Memang benar bahwa pithecantropus merupakan salah satu fosil primata tertua yang ditemukan sejauh ini, pithecanthropus yang dianggap merupakan nenek moyang cikal-bakal manusia ternyata tubuhnya sangat pendek.
Sebenarnya berdasarkan bukti-bukti yang ada nampaknya lebih masuk akal bila mengatakan bahwa Pithecantropus Erectus dan pithecantropus mojokertensis adalah sejenis kera yang berjalan tegak, bukan manusia purba dan manusia Heidelberg mungkin memang adalah fosil manusia. Bila asumsi ini yang dipakai maka akan sejalan dengan Buddha Vamsa, dan manusia tak perlu merendahkan dirinya dengan mengatakan berasal dari keturunan kera. Tinggi manusia rata-rata adalah jaman sekarang adalah satu setengah hingga dua meter, tetapi ada peninggalan tengkorak manusia yang tingginya kurang lebih tiga meter. Yang agak aneh para ahli prasejarah mengatakan bahwa tinggi rata-rata manusia awalnya kecil kemudian membesar (seperti manusia raksasa dari Heidelberg) lalu mengecil lagi seperti kita sekarang.
Dalam Aganna Sutta, Sang Buddha mengatakan bahwa bumi kita ini terbentuk bukan untuk yang pertama kali. Artinya bumi kita ini dulu pernah terbentuk kemudian kiamat, terbentuk kiamat, dan seterusnya sampai puluhan bahkan ratusan dan jutaan kali. Hal ini cocok dengan ‘Hukum kekekalan Energi’ bahwa energi tidak bisa diciptakan tetapi juga tidak bisa termusnahkan. Menurut Sang Buddha dalam Ghifarie (2007) bumi ini adalah energi dengan proses terbentuk dan kiamat yang berulang-ulang. Ketika bumi yang dulu kiamat maka pada waktu itu semuanya menjadi seperti kabut. Ini sesuai dengan teori terjadinya bumi dengan kabut dari Kant dan Laplace. Pada awalnya bumi kita ini adalah kabut yang panas dan bercahaya karena merupakan hasil ledakan dari bumi yang terdahulu. Kabut yang berupa cahaya ini berotasi/berputar sehingga lama-kelamaan terjadi penggumpalan di bagian pinggirnya dan ini memakan waktu jutaan, milliar-an bahkan trilliunan tahun. Karena pada saat bumi ini terbentuk masih berupa cahaya dan kabut gas maka makhluk-makhluk yang berupa cahaya datang kesini. Ini sesuai dengan teori frequensi yaitu jenis mencari jenis. Kemudian makhluk-makhluk yang berupa cahaya ini sama-sama berproses dengan bumi. Pada waktu pinggiran dari gumpalan kabut tersebut menggumpal, makhluk-makhluk yang berupa cahaya ini tergiur untuk mencicipinya dan terus demikian. Karena yang mereka cicipi itu adalah gumpalan-gumpalan dan bukan berupa kabut lagi maka cahaya makhluk-makhluk tersebut mulai berkurang dan hilang, badannya mulai tampak dan semakin lama semakin memadat, jenis kelaminnya pun mulai tampak, kemudian terjadi persilangan dan keturunan hingga akhirnya menjadi manusia. Ini sesuai dengan teori evolusi. Demikian pula di planet-planet lainnya. Mungkin di matahari, bulan dan planet-planet itu juga mempunyai makhluk-makhluk, tetapi bukan makhluk yang seperti manusia, ayam kucing, dan sebagainya. Jadi, semua itu sesungguhnya mempunyai makhluk-makhluk yang sesuai dengan kondisi karmanya masing-masing.
Dengan demikian kita ketahui bahwa agama Buddha itu melihat teori kehidupan bukan dari kasus penciptaan tetapi dari proses evolusi walaupun sampai saat ini masih belum diketahui apakah proses terjadinya kehidupan dalam agama Buddha sama dengan teori evolusi dari Darwin. Ini memang belum terbukti secara ilmu pengetahuan. Tetapi berita mengenai kelahiran kembali dan ditemukannya bahwa matahari itu lebih dari satu telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. Agama Buddha hanya memberikan teorinya saja, ilmu pengetahuanlah yang akan membuktikannya.

sumber: Ainun Asmawati & Dyah   Ayu  Fajarianingtyas. 2011. Teori Evolusi Biologis dan Agama. Makalah. Jurusan Biologi. PPs UM. Malang