Albert Einstein Quote

Agama Buddha adalah agama masa depan

Buddha Quote

Berpikir Di Sini dan Saat Ini

The Dalai Lama Quote

Agama Saya Sederhana. Agama Saya Adalah Kebaikan

Dhammapada 223

Kalahkan Keburukan Dengan Kebaikan

Vaddhana Quote

Dhamma adalah Jawaban dari Segala Pertanyaan

Tampilkan postingan dengan label Buddhisme dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddhisme dan Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 April 2016

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GAYA HIDUP HEDONIS DARI SUDUT PANDANG AGAMA BUDDHA


Manusia memiliki keinginan untuk selalu menikmati kebahagiaan di dalam hidupnya. Kebahagiaan bagi sebagian orang adalah keadaan dimana kehidupannya selalu diliputi kesenangan-kesenangan. Kesenangan dicari dengan cara memuaskan hasrat indera terhadap suatu objek. Pemuasan keinginan indera ditempuh dengan berbagai cara, misalnya: berburu kuliner untuk memanjakan lidah, pergi ke tempat-tempat yang ramai dengan musik, berbelanja barang-barang keluaran terbaru, bahkan berburu sesuatu yang dapat memuaskan hasrat seksual. Perilaku selalu mengejar kesenangan inilah yang dikenal sebagai perilaku hedonis.
Hedonisme adalah paham sebuah aliran filsafat dari Yunani. Secara etimologi, Hedonisme berasal dari bahasa Yunani “hedone” yang berarti “kepuasan”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hedonisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Tujuan paham aliran ini adalah untuk menghindari kesengsaraan dan menikmati kebahagiaan sebanyak mungkin dalam kehidupan di dunia. Kebahagiaan diperoleh dengan mencari perasaan-perasaan menyenangkan dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang tidak enak.
Seorang hedonis memiliki pandangan bahwa hidup harus dimanfaatkan untuk bersenang-senang. “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga” adalah empat hal yang diidamkan oleh para hedonis. Perilaku hedonis ini telah menyebar luas di dalam masyarakat. Penyebaran tidak hanya terjadi di lapisan masyarakat yang mapan secara ekonomi, namun menjangkit di seluruh lapisan dan golongan mayarakat. Pola hidup hedonis dapat terjadi di kalangan artis, pemerintah, pegawai negeri, pegawai swasta, bahkan remaja biasa. Hal ini dapat dilihat dari kecenderungan untuk berperilaku konsumtif.
Perilaku konsumtif adalah gaya hidup yang menganggap materi sebagai sesuatu yang dapat mendatangkan kepuasan tersendiri. Perilaku konsumtif menciptakan kebiasaan pembelian produk bukan atas dasar kebutuhan melainkan sebagai lambang status. Pakaian, tas, sepatu yang memiliki merk terkenal lebih disukai meskipun mahal. Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan keinginan atas status sosial bagi penganut gaya hidup konsumtif lebih diutamakan daripada pemenuhan kebutuhan dasar. Bagi golongan ekonomi menengah ke atas, hal tersebut wajar terjadi karena kebutuhan dasar sudah terpenuhi. Sedangkan bagi golongan ekonomi menengah ke bawah, akan muncul berbagai masalah yang diakibatkan karena ketidak seimbangan antara keinginan untuk membeli dengan daya beli. Mereka akan mencari segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka mau, termasuk dengan cara yang mengarah pada kriminalitas, misal: mencuri, membobol ATM, membegal, curanmor, penculikan, dan sebagainya.
Gaya hidup hedonis yang mengarah pada perilaku konsumtif menjadi topik bahasan yang menarik untuk dikaji. Bagaimana gaya hidup hedonis muncul dan bagaimana dampak dari hedonisme harus dibahas lebih dalam untuk membantu mengambil tindakan preventif maupun penanggulangan terhadap gaya hidup hedonis yang merebak di masyarakat. Lebih khusus, bagaimana Buddhisme memandang hedonisme dan faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup hedonis menjadi hal yang penting untuk dibahas karena Buddhisme dipandang sebagai ajaran yang berorientasi pada pelepasan nafsu keduniawian. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup hedonis dari sudut pandang agama Buddha.
SEJARAH HEDONISME
Sumber tertulis mengenai konsep hedonisme paling awal dijumpai dalam ajaran Barhaspatya yang dianut oleh Carvaka. Carvaka adalah suatu aliran filsafat India yang telah ada sekitar tahun 600 SM. Di dalam ajaran tersebut dijelaskan bahwa kematian adalah pembebasan sepenuhnya dari segala penderitaan. Mereka yang mencoba untuk mencapai keadaan bebas dari penderitaan dengan cara menekan keinginan karena berfikir bahwa segala kesenangan yang muncul dari pemuasannya bercampur dengan penderitaan, telah bertindak seperti orang-orang tolol. Orang bijaksana tidak akan menolak daging buah hanya karena ada kulit kerasnya. Seseorang hendaknya tidak melepaskan kesempatan menikmati kehidupan ini, dan berharap dengan sia-sia untuk menikmati kehidupan yang akan datang. Tujuan kehidupan manusia adalah untuk mencapai kesenangan sebanyak mungkin.
Hedonisme di barat muncul pada awal sejarah filsafat sekitar tahun 433 SM. Hedonisme ingin menjawab pertanyaan filsafat “apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?” Hal ini berawal dari Sokrates yang menanyakan tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir manusia. Lalu Aristippus dari Kyrene (433-355 SM) menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan. Aristippus memaparkan bahwa manusia sejak masa kecilnya selalu mencari kesenangan dan bila tidak mencapainya, manusia itu akan mencari sesuatu yang lain lagi. Pandangan tentang ‘kesenangan’ (hedonisme) ini kemudian dilanjutkan seorang filsuf Yunani lain bernama Epikuros (341-270 SM). Menurutnya, tindakan manusia yang mencari kesenangan adalah kodrat alamiah. Meskipun demikian, hedonisme Epikurean lebih luas karena tidak hanya mencakup kesenangan badani saja melainkan kesenangan rohani juga, seperti terbebasnya jiwa dari keresahan.
Aristippus menyetujui pendapat Sokrates bahwa keutamaan hidup adalah mencari “yang baik”. Akan tetapi, ia menyamakan “yang baik” tersebut dengan kesenangan “hedone”. Menurutnya, akal (rasio) menusia harus memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan kesusahan. Hidup yang baik berkaitan dengan kerangka rasional tentang kenikmatan. Kesenangan menurut Aristippus bersifat badani (gerak dalam badan). Ia membagi gerakan itu menjadi tiga kemungkinan: gerak kasar (yang menyebabkan ketidaksenangan seperti rasa sakit), gerak halus (yang membuat kesenangan), dan tiada gerak (yaitu sebuah keadaan netral seperti kondisi saat tidur). Aristippus melihat kesenangan sebagai hal aktual, artinya kesenangan terjadi kini dan di sini. Kesenangan bukan sebuah masa lalu atau masa depan. Menurutnya, masa lalu hanya ingatan akan kesenangan (hal yang sudah pergi) dan masa depan adalah hal yang belum jelas.
Ajaran Epikuros menitikberatkan persoalan kenikmatan. Apa yang baik adalah segala sesuatu yang mendatangkan kenikmatan, dan apa yang buruk adalah segala sesuatu yang menghasilkan ketidaknikmatan. Namun demikian, bukanlah kenikmatan yang tanpa aturan yang dijunjung Kaum Epikurean, melainkan kenikmatan yang dipahami secara mendalam. Kaum Epikurean membedakan keinginan alami yang perlu (seperti makan) dan keinginan alami yang tidak perlu (seperti makanan yang enak), serta keinginan yang sia-sia (seperti kekayaan yang berlebihan). Keinginan pertama harus dipuaskan dan pemuasannya secara terbatas menyebabkan kesenangan yang paling besar.
Kehidupan sederhana disarankan oleh Epikuros. Tujuannya adalah untuk mencapai “Ataraxia”, yaitu ketenteraman jiwa yang tenang, kebebasan dari perasaan risau, dan keadaan seimbang. Epikuros sangat menegaskan kebijaksanaan (phoronesis). Menurutnya, orang yang bijaksana adalah seorang seniman yang dapat mempertimbangkan pilihan nikmat atau rasa sakit. Orang bijaksana bukanlah orang yang memperbanyak kebutuhan, tetapi mereka yang membatasi kebutuhan agar dengan cara membatasi diri, ia akan mencapai kepuasan. Ia menghindari tindakan yang berlebihan. Oleh karena itu, Kaum Epikurean mempertimbangkan segi-segi positif dan negatif untuk mencapai kenikmatan jangka panjang dan mendekatkan diri kepada ataraxia.
GAYA HIDUP HEDONIS
Gaya hidup hedonis dalam pemahaman umum yang menggejala dalam masyarakat, merupakan sikap hidup yang cenderung foya-foya dan lebih bersifat glamor (hidup bermewah-mewahan). Gaya hidup hedonis adalah gaya hidup yang menjadikan kenikmatan dan kebahagiaan sebagai tujuan. Aktivitas apapun yang dilakukan selalu demi kenikmatan, bagaimanapun caranya, apapun sarananya dan apapun akibatnya. Orientasi hidup selalu diarahkan kesana dengan sedapat-dapatnya menghindari perasaan yang tidak enak atau menyakitkan. Gaya hidup hedonis adalah suatu pola hidup yang ingin mencari kesenangan dan kenikmatan, senang membeli barang-barang mahal, selalu ingin menjadi pusat perhatian dan menghindari kesengsaraan dengan memiliki fasilitas yang berkecukupan. Gaya hidup hedonis dalam pelaksanaannya mempunyai karakteristik:
1.      Hedonisme Egoistis
Hedonisme egoistis adalah gaya hidup hedonis yang bertujuan untuk mendapatkan kesenangan semaksimal mungkin. Kesenangan yang dimaksud ialah dapat dinikmati dengan waktu yang lama dan mendalam. Sebagai contoh makan-makanan yang enak-enak, jumlah dan jenisnya banyak, dan disediakan waktu yang cukup lama untuk menikmati semuanya. Seperti pada perjamuan makan ala Romawi, apabila perut sudah penuh maka disediakan sebuah alat agar isi perut dapat dimuntahkan keluar, kemudian dapat diisi kembali jenis makanan yang lain sampai puas.
2.      Hedonisme Universal
Hedonisme universal mirip dengan ulitarisanisme yang artinya kesenangan maksimal bagi banyak orang. Contohnya: bila berdansa, haruslah berdansa bersama-sama, waktunya semalam suntuk, tidak boleh ada seorang pun yang absen, ataupun kesenangan-kesenangan lainnya yang dapat dinikmati bersama oleh semua orang.
HEDONISME DALAM AGAMA BUDDHA
Hedonisme bukanlah hal yang asing dalam agama Buddha. Istilah hedonisme sama dengan kamma tanha dalam agama Buddha. Kamma tanha adalah nafsu keinginan yang berorientasi pada pemuasan kesenangan indera. Keinginan untuk memuaskan kesenangan indera merupakan sifat alami manusia. Manusia selalu berusaha mencari kenikmatan dan menghindari hal-hal yang dianggap sebagai penderitaan. Nafsu keinginanlah yang menjadi sumber penderitaan.
Buddha sebelum mencapai penerangan sempurna merupakan seorang pangeran pewaris tahta kerajaan Kapilavasthu. Sebuah kerajaan besar yang memiliki daerah kekuasaan yang luas. Semasa hidupnya sebagai seorang pangeran, beliau selalu dikelilingi dengan kekayaan yang berlimpah, makanan dan minuman yang hanya dapat dinikmati keluarga kerajaan dan bangsawan, wanita-wanita penghibur dan musik-musik, serta kekuasaan untuk mendapatkan apapun yang diinginkan sehingga beliau tidak mengenal apa itu penderitaan. Raja Suddhodana sengaja menjauhkan anaknya dari hal-hal yang tidak menyenangkan agar ramalan yang menyatakan bahwa kelak Sang Pangeran akan meninggalkan kerajaan dan menjadi seorang pertapa tidak terjadi. Namun, Sang Pangeran mulai menyadari bahwa kesenangan hanya bersifat sementara setelah melihat empat hal (orang tua, orang sakit, orang mati, dan pertapa) ketika beliau berkeliling ke luar istana. Beliau memutuskan pergi dari istana dan menjadi pertapa untuk mencari jalan pembebasan dari penderitaan.
Kesenangan duniawi bukanlah tujuan utama manusia. Ada kebahagiaan yang jauh lebih tinggi daripada kenikmatan duniawi, yaitu nibbana. Nibbana adalah kondisi dimana tidak ada lagi keinginan dan tidak ada lagi kelahiran. Dalam Alagaddupama Sutta dituliskan bahwa apa yang Buddha ajarkan baik di masa sekarang maupun masa lalu hanyalah tentang penderitaan dan cara melenyapkan penderitaan. Dapat dikatakan bahwa Buddhisme mengajarkan untuk menghindari gaya hidup hedonis dengan dasar bahwa kesenangan inderalah yang membuat manusia terjebak dalam lingkaran tumimbal lahir yang tiada henti di alam samsara.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GAYA HIDUP HEDONIS
Saat ini yang muncul dalam diri sebagian besar orang bukanlah keinginan untuk terlepas dari kesenangan duniawi melainkan keinginan untuk tetap menikmati kesenangan-kesenangan indera. Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup hedonis dalam agama Buddha adalah sebagai berikut:
1.      Keserakahan
Keserakahan merupakan salah satu dari tiga akar kejahatan. Keserakahan dalam agama Buddha diistilahkan dengan lobha (Pali) atau raga (Sansekerta). Lobha adalah keinginan berlebihan terhadap sesuatu yang menyenangkan. Keserakahan timbul ketika perasaan menyenangi objek (sukkha-vedana) muncul. Dalam proses pencerapan objek oleh landasan indera, ada tiga jenis perasaan yang dapat timbul, yaitu: senang, tidak senang, dan netral. Misalkan lidah mengecap makanan yang lezat, maka muncul perasaan senang. Perasaan senang yang tidak terkendali akan menimbulkan keinginan untuk menikmati makanan tersebut secara terus menerus. Apabila disertai dengan keegoisan, maka yang muncul adalah keinginan untuk menikmati kesenangan indera tanpa mempedulikan hak orang lain. Itulah yang dinamakan dengan keserakahan. Selama masih ada keserakahan, manusia akan terseret dalam penderitaan yang tak berkesudahan.
2.      Kesombongan
Kesombongan muncul ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain. Perasaan memiliki hal yang lebih dibandingkan orang lain akan memunculkan kesombongan sedangkan perasaan memiliki hal yang kurang dibandingkan orang lain akan memunculkan sikap rendah diri. Namun agama Buddha memandang bahwa sikap membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain sudah termasuk kesombongan meskipun yang ada dalam dirinya lebih buruk dibandingakan orang lain. Tidak jarang orang yang memiliki kekurangan (dalam penampilan, kecerdasan, atau kekayaan) bersikap angkuh. “Biar jelek asal sombong” menjadi suatu prinsip bagi beberapa orang. Kesombongan dijadikan sebagai pertahanan diri agar tidak dipandang rendah orang lain.
Kesombongan dalam agama Buddha diistilahkan dengan mana. Dalam Parabhava Sutta, Buddha menyampaikan bahwa kesombongan atas kelahiran, kekayaan, dan suku, merendahkan orang lain adalah penyebab keruntuhan. Romo Dharma K Widya (2014) menerangkan ada empat jenis kesombongan berdasarkan penyebab yang dapat timbul dalam diri manusia, yaitu:
  • Kesombongan yang muncul akibat kelahiran. Sebagian besar orang dikenal karena kelahirannya (terlahir dari keluarga mana, siapa orang tuanya, dan status sosialnya apa). Orang yang terlahir dengan status sosial yang tinggi akan cenderung bersikap sombong. Mereka cenderung memandang rendah orang lain. Kelahiran bukanlah sesuatu yang pantas disombongkan, untuk dibualkan, atau untuk berpikir orang lain hina. Sekalipun seseorang tidak dilahirkan dalam keluarga yang luhur atau berdarah biru, jika dia ramah, sopan dan lembut kepada yang miskin, dia akan lebih dihormati dan dicintai 
  • Kesombongan yang muncul akibat kepemilikan/kekayaan. Banyak orang kaya yang tidak mau bergaul dengan orang miskin. Mereka berpikir bahwa dirinyalah yang paling kaya. Pepatah lama mengatakan, “Tidak pernah melihat sungai besar, anak sungai dianggap yang terbesar". Jika mereka terbuka dan baik kepada orang miskin, mereka akan lebih dihormati. Bahkan mereka akan ditolong ketika dalam bahaya. Oleh karena itu, kemakmuran yang telah diperoleh pada kehidupan ini karena kedermawanan pada kehidupan lampau, tidak semestinya menjadi sesuatu yang akan menuntun menuju tataran yang lebih rendah pada kehidupan mendatang. Orang kaya harus berjuang dengan cara-cara yang terhormat untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat dan menyediakan bantuan bagi mereka. Limpahan harta dalam kehidupan sekarang bisa menghadapi banyak marabahaya. Sekalipun bisa terhindar dari marabahaya, harta hanya bisa digunakan pada kehidupan sekarang. 
  • Kesombongan yang muncul akibat dari penampilan. Penampilan fisik yang rupawan pada saat ini diakibatkan karena dalam kehidupan lampau bebas dari dosa (kebencian), mempersembahkan bunga, membersihkan altar dan Vihara, dan sebagainya. Kecantikan dan ketampanan menjadi sesuatu yang dibanggakan oleh setiap orang. Orang yang berpenampilan menarik akan lebih mudah mendapatkan teman, pekerjaan, dan disukai oleh banyak orang. Karena itulah banyak orang yang mengejar kerupawanan. Segala cara dilakukan untuk mempertahankan kecantikan atau ketampanan bahkan mengubah wajah aslinya menjadi wajah yang diinginkan dengan bantuan teknologi medis. Cantik tapi plastik. Bagaimanapun juga, kecantikan yang berasal dari luar hanyalah sementara, namun kecantikan yang berasal dari dalam akan terpancar selamanya. 
  • Kesombongan yang muncul akibat dari kecerdasan dan ilmu yang dimiliki. Pengetahuan adalah suatu modal untuk memberikan pendidikan apa yang pantas dan apa yang tidak pantas, dan bagaimana hidup berbudaya serta berhubungan sosial dengan orang lain. Sebagian orang merasa sombong hanya karena pendidikan dan kelulusan akademik. Pendidikan adalah sesuatu yang dipelajari dari orang lain dan bukan hal yang terlalu luar biasa. Setiap orang bisa mendapatkan pendidikan formal jika diberi kesempatan untuk belajar dari guru yang baik. Ketika bertemu dengan seorang yang buta huruf dan sangat dungu, beberapa orang bersikap sombong dan memandang rendah. Pada dasarnya, pengetahuan dicapai agar dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.
3.      Pandangan Salah
Pandangan salah atau pemahaman keliru dalam agama Buddha diistilahkan dengan Ditthi. Ditthi memandang atau mengerti dengan keliru, sesuatu yang ada dianggap tidak ada, yang tidak ada dianggap ada; yang salah dianggap benar, yang benar dianggap salah. Ditthi juga secara dogma menganggap pandangan sendiri yang keliru sebagai benar dan pandangan benar orang lain sebagai keliru. Mempercayai dunia dan isinya diciptakan oleh sosok Yang Mahakuasa; percaya adanya atta (jiwa) disetiap tubuh makhluk; pandangan salah seperti itu disebut ditthi, percaya sesuatu yang tidak ada sebagai ada.
Secara keliru berpandangan bahwa perbuatan baik dan buruk tidak akan menimbulkan akibat pada kemudian hari; berpandangan salah bahwa tidak ada akibat dari kamma padahal semua makhluk menikmati atau menderita akibat dari kamma dengan berbagai cara; berpandangan salah bahwa tidak ada Nibbana yang merupakan padamnya segala penderitaan; berpandangan salah bahwa tidak ada kehidupan lagi setelah kematian padahal terus ada lingkaran kelahiran kembali sebelum pencapaian Nibbana. Pandangan-pandangan tersebut adalah ditthi.
4.      Kemelekatan
Perasaan ingin selalu memiliki atau menikmati sesuatu yang menyenangkan disebut sebagai kemelekatan. Dalam agama Buddha kemelekatan diistilahkan dengan upadana. Upadana merupakan sebab dari penderitaan. Ketika seseorang melekati apa yang dimiliki, maka pada saat kehilangan atau berpisah ia akan diliputi perasaan sedih yang mendalam. Dalam Upadana Sutta dijelaskan mengenai 4 jenis kemelekatan, yaitu:
  • Kamupadana (kemelekatan terhadap nafsu indera). Kamupadana adalah timbulnya kemelekatan dan keinginan untuk menguasai (memiliki) atau menghancurkan sesuatu dikala: melihat yang disukai atau tidak, mendengar yang menyenangkan atau tidak, mencium aroma yang wangi atau tidak, mengecap yang enak atau tidak, merasakan sentuhan yang lembut atau tidak, serta berpikir yang indah atau tidak. Terjadinya kemelekatan setelah adanya kontak antara indera dengan objek-objek yang tersentuh, itulah penjara. Seseorang yang begitu melekat dengan apa yang dia inginkan, berhasil diraih atau tidak, suatu saat pasti akan menimbulkan derita. Jika berhasil diraih, dia harus mencurahkan perhatian untuk merawat dan menjaganya. Benda apapun cepat maupun lambat, apakah dikehendaki atau tidak, pasti akan mengalami proses kehancuran. Jika proses kehancuran ini terjadi sedangkan seseorang begitu terlekat olehnya akan menimbulkan dukkha (derita). Begitu juga sebaliknya, jika tidak berhasil mendapatkan apa yang telah diidam-idamkan, derita juga yang dirasakan. Sang Buddha bersabda, "Makhluk-makhluk yang terjerat pada keinginan, meronta-ronta seperti kelinci yang terperangkap oleh pemburu. Mereka yang terjerat dalam belenggu dan ikatan batin, niscaya mengalami penderitaan berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama" (Dhammapada 342). 
  • Ditthupadana (kemelekatan terhadap pandangan salah). Pandangan salah dalam hal ini adalah tidak bisa menerima atau mengerti kebenaran-kebenaran yang berlaku di alam semesta ini. Kebenaran kebenaran tersebut, misalnya adalah: setiap perbuatan, pasti akan menimbulkan akibat, benda apapun yang terdapat di alam semesta ini, tidaklah kekal keberadaannya, serta perbuatan baik akan menimbulkan kebahagiaan dan yang jahat akan menghasilkan penderitaan. Tidak sedikit dijumpai, yang hanya dikarenakan kesalahan pandangan hidup, seseorang enggan dan menolak untuk mau beramal. Baginya, beramal adalah suatu perbuatan yang sia-sia saja serta mubazir. Seseorang yang melekat pada pandangan keliru sangat sulit menerima kebenaran. Ia akan melihat orang lain salah dan ia selalu benar. 
  • Silabbatupadana (kemelekatan terhadap upacara/ritual). Silabbatupadana adalah suatu pandangan salah, yang meyakini bahwa dengan hanya memberikan (meletakkan) persembahan persembahan (sajian-sajian), di altar suci para Buddha, Bodhisattva dan Dewa, akan mendapatkan pahala-pahala atau berkah. Dan yang lebih fatal lagi adalah mempersembahkan daging (sebagai hasil dari pengorbanan makhluk hidup) di altar suci. Orang yang melekat pada upacara/ritual akan memberikan persembahan dalam bentuk apapun (daging, sayuran atau buah), diiringi dengan sejumlah pengharapan, misal: ingin mendapatkan kekayaan, jodoh, kekuasaaan atau kesucian. Hal tersebut adalah merupakan pandangan yang salah. Semuanya adalah wujud dari pengharapan yang sia-sia saja
  • Attavadupadana (kemelekatan terhadap keegoisan). Tidak ada seorangpun yang serba tahu atau sempurna di dalam kehidupan ini. Berdasarkan pada kebenaran ini, terlahir kaya, pintar, berkuasa, sehat dan lain sebagainya, bukanlah hal yang patut disombongkan. Tanpa adanya dukungan atau timbunan karma (perbuatan) baik, yang telah disemai di kehidupan-kehidupan sebelumnya, tidaklah mungkin kita bisa menikmati kelebihan kelebihan disaat ini. Keegoisan timbul karena adanya kebanggaan yang berlebihan atas kelebihan-kelebihan yang telah dimiliki. Orang kaya yang egois hanya akan memanfaatkan kekayaannya untuk melampiaskan kepuasan dirinya semata. Orang pintar yang egois selalu memperdaya pihak lain. Orang rupawan yang egois hanya memanfaatkan kecantikan dan ketampanannya untuk merendahkan pihak lain. Orang berkuasa yang egois akan bersikap otoriter, siapa yang menentang akan langsung disingkirkan. Orang yang melekat pada keegoan pribadi akan selalu mementingkan dirinya sendiri tanpa mempedulikan orang lain.
5.      Sahabat Palsu
Sahabat palsu dalam agama Buddha dikenal dengan istilah Akalyanamitta. Dalam Sigalovada Sutta, Buddha menjelaskan empat jenis sahabat palsu yaitu sebagai berikut:
a.       Sahabat yang tamak, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1)       Serakah
2)       Memberi sedikit dan meminta banyak
3)       Melakukan kewajibannya karena takut
4)       Hanya ingat akan kepentingannya sendiri.
b.      Orang yang banyak bicara sedikit berbuat, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1)         Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang lampau,
2)         Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang mendatang,
3)         Ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong,
4)         Bila ada kesempatan untuk membantu ia mengatakan tidak sanggup.
c.       Penjilat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1)         Menyetujui hal-hal yang salah
2)         Tidak menganjurkan hal-hal yang benar
3)         Memuji di depan
4)         Berbicara jelek dihadapan orang-orang lain.
d.      Kawan pemboros mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1)         Menjadi kawan apabila gemar akan minum minuman keras
2)         Menjadi kawan apabila sering berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak pantas
3)         Menjadi kawan apabila mengejar tempat-tempat hiburan dan pertunjukkan
4)         Menjadi kawan apabila gemar berjudi.
Keserakahan, kesombongan, pandangan keliru, dan kemelekatan merupakan faktor-faktor internal yang mempengaruhi gaya hidup hedonis. Semakin orang serakah, semakin ia akan berusaha untuk memuaskan nafsu keinginannya. Semakin orang sombong, semakin ia akan berusaha menjadikan dirinya untuk selalu lebih dibandingkan orang lain melalui penampilan dan kekayaan. Semakin orang tersesat dalam pandangan keliru, semakin ia terseret dalam pemahaman bahwa hidup hanya untuk bersenang-senang. Semakin orang melekati apa yang disenangi, semakin ia akan berusaha mempertahankannya.
Sahabat palsu merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi gaya hidup hedonis. Pergaulan yang tidak baik tentu akan membawa dampak negatif dalam diri seseorang. Orang yang berada di antara teman-teman pemabuk, ia akan menjadi pemabuk. Orang yang berada di antara teman-teman penjudi, ia akan menjadi penjudi. Orang yang berada di antara teman-teman yang gemar berbelanja, ia akan ikut gemar berbelanja. Sahabat palsu hanya menemani di kala temannya senang dan menghindar di temannya dalam kesusahan.
DAMPAK NEGATIF GAYA HIDUP HEDONIS
Perkembangan gaya hidup hedonis di Indonesia paling pesat terlihat dari kalangan generasi muda, yang diposisikan sebagai generasi penerus. Hal tersebut yang menyebabkan terkikisnya budaya asli Indonesia dari waktu ke waktu. Sesungguhnya keinginan untuk hidup senang dan mewah adalah sebagian dari naluri semua manusia, tetapi hal tersebut tidak boleh dibiarkan membudaya dalam masyarakat karena akan menimbulkan dampak negatif, diantaranya:
  1. Hedonisme membuat orang lupa akan tanggungjawabnya karena apa yang dia lakukan semata-mata untuk mencari kesenangan diri.
  2. Manusia akan memprioritaskan kesenangan diri sendiri dibanding memikirkan orang lain, sehingga menyebabkan hilangnya rasa persaudaraan, cinta kasih dan kesetiakawanan sosial.
  3.  Sikap egoisme akan semakin membudaya
  4. Semakin berkembangnya sistem kapitalis-sekuler
  5. Merusak suatu sistem nilai kehidupan yang ada dalam masyarakat sekarang, mulai sistem sosial, politik, ekonomi, hukum, pendidikan sampai sistem pemerintahan.
  6. Meningkatnya angka kriminalitas. Tindak kriminal yang terjadi kebanyakan dilatar belakangi oleh sifat hedonisme manusia semata.
BUDDHISME: JALAN TENGAH ANTARA HEDONISME DAN ASKETISME
Ada dua sikap terhadap kesenangan: mengejar kesenangan atau menjauhi kesenangan. Sikap mengejar kesenangan akan berujung pada hedonisme yang menganggap bahwa kesenangan adalah tujuan utama hidup manusia. Sedangkan sikap menjauhi kesenangan akan berujung pada asketisme yang berusaha melepaskan segala bentuk kemewahan. Bahkan dalam asketisme ekstrim, seseorang akan berusaha menghindari segala bentuk kesenangan dan keindahan dengan cara menyiksa diri, hidup di hutan, mengenakan sehelai kain, serta tidak makan dan minum.
Buddha dalam proses pencarian pencerahan juga melakukan praktik asketisme ekstrim. Beliau selama enam tahun menyiksa diri di hutan, hanya duduk bermeditasi, tidak makan maupun minum, hingga badannya hanya tinggal kulit pembungkus tulang. Namun beliau kemudian menyadari bahwa dengan menjauhi segala bentuk kesenangan indera dengan cara menyiksa diri tidak akan membawa pada pencerahan. Beliau mengakhiri latihan ekstrim tersebut dan mengubah cara berlatih dengan sikap madya, tidak terlalu keras dalam berlatih dan tidak terlalu lentur. “Seperti senar mandolin, bila ditarik terlalu kencang akan putus, dan bila terlalu kendur tidak akan menghasilkan bunyi”. Demikianlah akhirnya, beliau mampu mencapai kesempurnaan dan menemukan jalan tengah menuju pembebasan.
Buddha tidak mengajarkan untuk mengumbar kesenangan maupun menghindari segala bentuk kesenangan melainkan bersikap waspada. Kewaspadaan dibutuhkan agar tidak terperdaya oleh pikiran-pikiran negatif (keserakahan, kesombongan, pandangan keliru, dan kemelekatan). Memiliki pengendalian diri terhadap nafsu keinginan merupakan hal yang utama karena nafsu keinginan adalah sumber penderitaan. Pemenuhan keinginan bukanlah prioritas utama melainkan pemenuhan kebutuhan. Keinginan manusia tidak ada batasnya. Ketika pemenuhan keinginan menjadi hal yang utama, maka sampai kapanpun seseorang akan mengejar keinginan yang tak berkesudahan. Untuk memperoleh kebahagiaan orang hendanknya berlaku jujur, rendah hati, mudah merasa puas, hidup sederhana, dan tidak melekat (Karaniya Metta Sutta).


DAFTAR REFERENSI
Alwi, Hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Dialogue of The Buddha (Digha Nikaya) Vol I. Translated. David, Rhys. 1979. London: The Pali Text Society.
Dialogue of The Buddha (Digha Nikaya) Vol II. Translated. David, Rhys. 1979. London: The Pali Text Society.
Feldman, Fred. 1997. Utilitarianism, Hedonism, and Desert: Essays in Moral Philosophy. Australia: Cambridge University Press.
Jankabhivamsa, Ashin. 2005. Abhidhamma Sehari-hari. Jakarta: Ehipassiko.
Piyaratana, W. 2008. The Analysis of Sensual Love as Depicted in The Pali Nikayas. Thailand: Mahaculalongkornrajavidyalaya University.
Praja, Dauzan Deriyansyah, dan Anita Damayantie._.Potret Gaya Hidup Hedonisme Di Kalangan Mahasiswa (Studi pada Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Lampung). Jurnal Sociologie, Vol. 1, No. 3: 184-193.
Sadhu, Siddharta. 2015. Cārvāka Hedonism Compared with That of Aristippus and Epicurus. Paripex - Indian Journal of Research. Vol 4: 71-72.
The Book of Discourse (Sutta Nipata) Vol. I. Translated. Norman, K.R. 1984, London: The Pali Text Society.
The Book of The Kindered Sayings (Samyutta Nikāya) Vol I. Translated. Davids, Rhys. 1987. London: The Pali Text Society
The Middle Length Saying (Majjhima Nikaya) Vol.I. Translated. Hoener, I.B. 1989.  London: The Pali Text Society.
The Word of the Doctrine (Dhammapada). Translated. Norman. 2004. London: The Pali Text Society.

Kamis, 14 April 2016

Konsumerisme dalam Parabhava Sutta

Bagi masyarakat secara umum konsumerisme adalah bentuk pemakain barang yang tidak menurut kebutuhan, tetapi hanya berdasarkan tuntutan gengsi atau pola hidup yang berfoya-foya. Kebutuhan masyarakat pada suatau barang tidak didasarkan atas manfaatnya melainkan hanya keinginan semata.
Sedangkan Konsumerisme dalam agama Buddha terdapat dalam Parabhava Sutta. Dalam Parabhava sutta, diterangkan mengenai sebab-sebab kemerosotan atau hilangnya kekayaan seseorang. Dalam kenyataannya menghabiskan kekayaan ini adalah sangat mudah dibandingkan dalam mencari kekayaan. Dalam Parabhava sutta dijelaskan mengenai saluran-saluran dalam menghabiskan kekayaan atau sebab-sebab kemerosotan seseorang, yaitu sebagai berikut:

1. Tidak Mengenal Dhamma

Mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai, Mendiskusikan Dhamma pada saat yang sesuai, itulah berkah utama. (Angutara Nikaya, Manggala sutta). Tetapi kenyataan dalam kehidupan sekarang ini masih banyak manusia yang tidak memiliki kesempatan mendengar dan mendiskusikan Dhamma. Dengan demikian, orang yang tidak mengenal Dhamma akan jauh dari prilaku baik dan mengkondiskan untuk berbuat jahat. Dalam Parabhava sutta sang Buddha mengatakan “ Orang yang sedang jaya mudah diketahui, orang yang sedang mengalami kemerosotan mudah diketahui, barang siapa yang mencintai Dhamma, jayalah ia, barang siapa membenci Dhamma, merosotlah ia”. (Parabhava Sutta, Khudakka Nikaya, Sutta Nipatta).
Dalam kehidupan sekarang ini apabila manusia selalu berbuat hal-hal yang tidak bermanfaat, dan selalu mengumbar keinginan nafsunya. Mempunyai sifat serakah dan selalu mementingkan diri sendiri sehingga tidak mau berdana atau membantu sesama. Maka manusia seperti itu adalah manusia yang tidak mengenal Dhamma sehingga harus dijauhi.

2. Berkumpul Dengan Orang-orang jahat

Bergaul hendaknya seseorang harus dapat membedakan antara teman sejati (Kalyanamitta) dengan sahabat atau teman palsu (akalyanamitta). Apabila seseorang bergaul dengan orang-orang yang berkelakuan buruk, penjudi, pemabuk, tidak bermoral, penipu atau yang hanya mengharapkan keuntungan maka hendaknya tidak bergaul dengan orang-orang tersebut
Dalam Sigalovada Sutta, pathika vagga 15 dijelaskan bahwa terdapat empat macam sahabat palsu, yaitu: (1) teman yang bertujuan menipu, (2) teman yang hanya manis dimulut saja, (3) mereka yang memuji-muji dan membujuk, dan (4) mereka yang mendorong seseorang yang menuju jalan yang membawa kerugian atau kehancuran. (Choon Kim: 2004: 36).

Keempat macam orang ini, bukanlah teman-teman yang sejati, mereka adalah teman yang palsu. Maka wajar jika seseorang tidak bergaul dengan mereka. Bergaul dengan mereka dapat memberikan penderitaan dalam hidup. Hendaknya seseorang harus bergaul dengan orang-orang yang mempunyai kelakuan atau kepribadian yang baik, yang dapat memberikan masukan atau saran. Akibat dari berkawan dengan teman yang berkelakuan buruk ini, dinyatakan Sang Buddha dalam Parabhava sutta, dimana Sang Buddha memberikan penjelasan kepada dewa yang menanyakan tentang sebab utama tentang kejatuhan seseorang. Buddha berkata bahwa:
Orang yang seperti ini akan beteman dengan teman licik yang dekat dengannya dan tidak akan membahagiakannya bila ia berkumpul dengan yang bajik. Selain itu apabila seseorang berkumpul dengan para pelacur, wanita pemabuk, pemboros, atau kepada seorang laki-laki dengan ciri yang sama, Inilah sebab musabab dari kemerosotan atau penyebab kejatuhan seseorang (Parabhava Sutta, Kudakka Nikaya, Sutta Nipatta).

Yang dimaksud orang-orang jahat disini adalah penjudi, pelacur, pemabuk, penipu, pembohong dan orang kasar. Apabila berkumpul dengan orang-orang tesebut, akan kehilangan kekayaan kerana terpengaruh olah kejahatan yang dilakukannya sehingga kekayaan yang kita miliki akan dapat cepat habis karena dipergunakan untuk hal-hal yang tidak baik atau kejahatan.
Apabila dalam kehidupan sekarang ini seseorang berteman dengan  seorang pembohong, penjudi, tidaklah baik karena seseorang akan terpengaruh malakukan berjudi sehingga apabila kalah akan banyak kehilangan harta atau uang. Bergaul dengan para pelacur akan sangat berpengaruh karena seorang pelacur akan selalu melakukan pemerasan terhadap kekayaan dan melakukan perbuatan yang melanggar norma kesusilaan. Bergaul dengan para pemabuk akan berpengaruh dalam minum-minuman yang memabukkan, sehingga akan ketagihan dan cenderung untuk membeli minum-minuman sehingga lama-kelamaan kekayaan kan habis untuk membeli minuman.
Bergaul dengan penipu sangatlah berbahaya karena, seorang penipu dapat juga menipu diri kita, hanya ingin menguasai atau ingin mendapatkan harta yang kita miliki. Bergaul dengan orang kasar akan terpengaruh kekasarannya sehingga dalam melakukan sesuatau tidak sadar akan cenderung akan kasar. inilah enam jenis orang yang jahat (penjudi, pelacur, pemabuk, penipu, pembohong, dan orang kasar) yang tidak bisa dijadikan teman dan selalu dihindari. yang mempunyai perilaku buruk atau jahat.
Maka hendaknya seseorang menghindari orang-orang tersebut, agar dapat hidup damai tentram dan dapat terhindar dari prilaku konsumerisme atau prilaku yang hanya menghaburkan harta kekayaan atau menghamburkan uang, sehingga mengakibatkan kemerosotan seseorang.
3. Kemalasan

Seseorang yang malas akan memberikan banyak alasan untuk tidak berkerja. Orang yang seperti ini menyalahkan cuaca atau iklim dengan berkata terlalu dingin atau terlalu panas, dan juga menyalahkan waktu dengan mengatakan terlalu pagi atau terlalu malam. Atau orang yang mempunyai sifat malas untuk bekerja orang tersebut akan menyalahkan perutnya dan berkata dia terlalu lapar atau terlalu kenyang. Sang Buddha mengatakan bahwa orang yang mempunyai sifat kemalasan, akan meninggalkan banyak hal, yang belum dikerjakan. Orang yang malas menggunakan uang yang telah dimiliki akan dihamburkan sehingga kekayaannya akan habis. Karena orang yang malas tidak berfikir untuk mencari uang untuk menambah kekayaannya.

Sang Buddha mengatakan kepada umat manusia untuk tidak bermalas-malasan karena hal itu dapat menyebabkan kejatuhan seseorang. Dalam Parabhava sutta (Sn I,6) Sang Buddha mengatakan “suka tidur, suka bergosip, malas dan mudah tersinggung adalah penyebab kejatuhan seseorang”. Jadi kemalasan merupakan sebab kehancuran seseorang, hendaknya seseorang bekerja untuk mendapatkan kekayaan, dan berusaha menambah harta yang telah dimiliki, dengan bekerja keras dalam melakukan pekerjaannya sehingga kesuksesan akan mudah dicapai. Selain itu manusia juga tidak terjerumus dalam konsumerisme yang hanya berfikir untuk memuaskan keinginan nafsu dan hanya hidup berfoya-foya.

4. Kurang Berdana

Dewasa ini, banyak umat awam yang telah salah mengerti pengertian dari berdana yang sesungguhnya. Mereka menganggap berdana hanya orang kaya yang perlu melakukannya, sedangkan orang miskin tidak perlu. Mereka juga menganggap membakar dupa yang besar di Vihara akan mendatangkan manfaat lebih besar daripada berdana kepada orang yang lebih membutuhkan. Masih banyak contoh lagi di masyarakat yang tidak tahu mengenai pengertian dari berdana
Berdana dalam agama Buddha lebih diartikan sebagai perbuatan memberi atau melepaskan apa yang kita miliki, sehingga dapat mengurangi rasa kemelekatan terhadap sesuatu yang menjadi milik kita. Dana juga dikenal dengan istilah danamaya yang berarti suatu kehendak yang baik yang patut ditimbulkan untuk mengikis lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan kemelekatan terhadap harta duniawi yang berupa sumbangan dana atau sumbangan kepada yang pautut menerima (S, Sagatha vagga :18)
Perbuatan beramal dapat diartikan sebagai suatu perbuatan yang dikakukan oleh seseorang dengan memberikan sebagian dari harta miliknya dengan tanpa mengharapkan imbalan baik berupa meteri maupun bukan materi kepada orang yang membutuhkan seperti korban bencana alam, fakir miskin, para pengemis atau panti-panti dan badan sosial lainnya (Angutara Nikaya, catukka Nipata : 62 )”.
Bagi kebanyakan orang beranggapan bahwa mengumpulkan kekayaannya dengan susah payah, akan  merasa berat jika harus mengeluarkan sebagian hartanya untuk berdana, karena mereka berpikir bahwa harta yang mereka peroleh adalah dengan susah payah. Prinsip ini membuat seseorang menjadi kikir, egois, dan tidak peduli terhadap penderitaan orang lain. Sebagian orang kaya, selalu menginginkan agar hartanya bertambah terus dengan perasaan serakah. Ia dihinggapi perasaan takut jika suatu saat nanti kehilangan hartanya. Ia selalu memikirkan bagaimana hartanya nanti, tetapi lupa untuk berdana. Ia tidak mengetahui bahwa kekayaan yang ia miliki itu adalah hasil dari berdana pada kehidupannya yang lampau.
Demikian pada orang miskin, yang setiap hari selalu memikirkan bagaimana caranya agar memiliki uang yang banyak. Terkadang mereka menggunakan cara-cara yang melanggar sila untuk mendapatkan kekayaan. Hal ini disebabkan karena pada kehidupan yang lampau mereka kurang berdana. Dengan demikian, berdana adalah hal yang penting dan bermanfaat untuk dilakukan. Berdana merupakan salah satu dari sepuluh perbuatan baik dalam agama Buddha (Dasa Paramita). Berdana mendapatkan urutan pertama dalam Dasa Paramita. Dana adalah sifat yang harus dikembangkan terlebih dahulu sebelum melaksanakan 9 sifat yang lainnya. Berdana ibarat sebuah fondasi yang kokoh dalam membangun sebuah rumah.
Berdana merupakan sebuah ladang yang baik untuk menanam karma baik. Dengan berdana maka sifat-sifat buruk, seperti egois, serakah, konsumerisme, materialistis akan dapat berkurang. Dengan berkurangnya sifat buruk tersebut, maka hidup kita akan lebih bahagia. Salah satu cara melakukan karma baik adalah dengan berdana.
Kenyataan-kenyataan seperti ini masih sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, kurangnya pengertian tentang berdana membuat seseorang untuk lebih cenderung bersifat serakah. Sang Buddha menjelaskan mengenai akibat dari kurang berdana tang terdapat dalam Parabhava Sutta yaitu “orang yang berada dalam keadaan makmur, tetapi tidak menyokong ibu atau ayahnya yang telah tua dan lemah inilah sebab penderitaan. Orang yang memiliki kekayaan yang berlimpah-limpah (emas dan makanan), namun ia hanya memakainya untuk dirinya sendiri tanpa membagikannya pada orang lain (yang membutuhkan), inilah sebab penderitaaan”.(Parabhava Sutta, Khudakka Nikaya, Sutta Nipata 18 )
Jadi apabila seseorang yang memeliki kekayaan secara melimpah, mempunyai banyak harta, tetapi menggunakan kekayaanya sendiri, dipergunakan untuk memenuhi kebutuhannya atau berfoya-foya, mabuk-mabukan, berjudi. Tanpa memikirkan penderitaan orang lain dan tidak mau berdana. Maka dalam kehidupan yang akan datang akan menderita atau terlahir menjadi orang yang miskin.

5. Berbohong

Menurut Agama Buddha berbohong merupakan pelanggaran sila, terutama sila keempat pancasila Buddhis yang menyatakan saya berjanji untuk melatih diri untuk tidak berbuhong. Apabila dalam kehidupan sekarang ini manusia selalu melanggar sila khususnya sila yang keempat ini maka akan berakibat pada kehidupan yang akan datang tidak akan dipercaya oleh orang lain. Selain itu apabila seseorang sering berbohong, dalam segala hal maka akan berakibat pada kemerosotan atau kehancuran seseorang dalam parabhava sutta telah dijelaskan bahwa:”Barang siapa menipu dengan mendustai pada seorang brahmana atau pertapa atau orang suci lainnya, inilah sebab musabab dari kemerosotan”. (Parabhava Sutta, Khudakka Nikaya, Sutta Nipata 18 )
6. Kesombongan

Seseorang yang terlahir dalam keluarga yang mempunyai kekayaan yang melimpah-ruah,  merupakan  sebuah kebahagiaan, sebuah prestasi tersendiri bagi pemilik kekayaan, tetapi kekayaan yang dimiliki tidak boleh digunakan sebagai kesombongan sehingga orang yang memiliki kekayaan tidak mau bergaul dengan yang miskin, mereka beranggapan tidak sederajat apabila bergaul dengan orang miskin.
Seseorang yang memiliki kekayaan seharusnya di pergunakan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu atau orang miskin. Sang Buddha mengatakan bahwa: ” Orang yang menyombongkan kelahirannya, kekayaan dan keluarganya, merendahkan sanak keluarga sendiri inilah sebab musabab dari kemerosotan”. (Parabhava Sutta, Khudakka Nikaya, Sutta Nipata 18 ). Sehingga apabila seseorang dalam kehidupan sekarang ini bersikap sombong dengan apa yang telah dimiliki akan menjadikan kehancuran seseorang atau runtuhnya seseorang.
7. Ketidakpuasan

Agama Buddha menyebut hawa nafsu keinginan sebagai tanha. Tanha juga dapat diartikan sebagai rasa tidak puas, ataupun rasa kehausan terhadap sesuatu. Sebagi contoh apabila seseorang merasakan makanan yang enak, lezat tentunya orang tersebut berkeinginan untuk menambah makanan tersebut, sebagai contoh lain apabila seseorang mempunyai keinginan untuk membeli sepeda motor yang bagus, yang semua orang belum memiliki, setelah keinginan itu terpenuhi maka orang tersebut timbul keinginan lagi untuk mempunyai atau membeli sebuah mobil.
Manusia tidak menyadari bahwa dirinya tidak akan terpuaskan, dengan apa yang telah mereka peroleh. Hal itu dikarenakan keinginan akan timbul lagi setelah seseorang mampu memenuhi keinginannya. Dalam Parabhava Sutta disebutkan “barang siapa mempunyai sedikit kekayaan, tetapi bernafsu besar, terlahir dalam keluarga ksatria, dan mengidam-idamkan untuk menjadi raja, inilah sebab musabab kemerosotan. Barang siapa tidak puas dengan istrinya sendiri, terlihat bersama-sama dengan pelacur dan istri-istri orang lain, inilah sebab musabab dari kemerosotan”.

Dampak Konsumerisme

Dampak dari konsumerisme ini akan memberikan akibat bagi para manusia yang berprilaku konsumerisme atau hidup berfoya-foya. Menurut Dhammananda prilaku konsumerisme akan berakibat sebagai berikut:

1. Menurunnya Nilai Kemoralan

Perbuatan manusia semakin hari menunjukkan penurunan dalam melakukan perbuatan baik. Sesuai dengan yang diajarkan oleh sang Buddha, memang segala sesuatu tidak kekal adanya, demikian juga dengan tingkah laku atau perbuatan manusia, senantiasa mengalami perubahan, baik kearah posif dan negatif.
Menurunnya nilai-nilai moral manusia ditandai dengan semakin jauhnya praktek ajaran agama. Merosotnya keyakinan manusia terhadap ajaran agama atau religius menyebabkan perbuatan manusia semakin jauh dari nilai-nilai kebenaran.  Bersama dengan merosotnya kepercayaan religius membawa, dampak kemorosotan moralitas. Terlihat hampir diseluruh dunia terjadi peningkatan kejahatan, peningkatan kenakalan remaja, usaha pelanggaran yang semakin meninggkat terhadap penyelesaian persoalan ekonomi dan politik dalam negeri, kemerosotan dalam otoritas dan disiplin” (Henry Hazlitt,2003: 21).
Perbuatan manusia yang cenderung memprihatinkan, secara umum tindakan kriminalitas dan kejahatan telah menunjukkan peningkatan. Dapat dilihat melalui data yang telah ditulis oleh para peneliti, seperti yang ditulis oleh Hisham Harum di The New Straits Time, 5 mei 1997:
Statistik polisi mengungkapkan bahwa pada tahun 1994, jumlah pelaku kriminal yang dilakukan karena ketergantungan obat, pemerkosaan, hubungan intim yang tidak semestinya, pembobolan rumah, dan pencurian adalah sebanyak 4192. dari angka ini terdapat 1.893 laki-laki dan 23 perempuan dari etnis melayu, 590 laki-laki dan 18 perempuan dari etnis cina. Dan 421 lai-laki dan 10 perempuan dari etnis india. Sedangkan pada tahun berikutnya jumlah pelanggar dari etnis melayu naik menjadi 2.402, sedangkan dari etnis china menjadi 922 dan 507 dari etnis india. Angka tahun 1996 adalah 2890 dari etnis melayu dan 770m dari etnis china (menunjukkan penurunan), 574 dari etnis india (Dhammananda, 2003: 189).

Dalam Dhigha Nikaya, Patika Vagga, Sigalovada Sutta disebutkan ada empat yang menyebabkan seseorang bisa terdorong  untuk melakukan kejahatan atau perbuatan jahat: ” keinginan, kebencian, ketakutan, dan kebodohan”. Hal-hal inilah yang dapat menjadikan seseorang untuk melakukan perbuatan yang jahat yang dapat merugikan diri sendiri maupu orang lain.
Terjadinya kemerosotan moral secara umum telah tercermin dalam berbagai bidang, seperti bidang sosial, politik, budaya, ekonomi dan masih banyak baidang bidang yang lainnya. Dalam kaitannya dengan prilaku konsumerisme yang menjadi sebab kemerosotan moral adalah dalam bidang ekonomi. Bagi kebanyakan manusia mempunyai kekayaan, mempunyai barang-barang yang bagus, dan indah merupakan kebahagiaan, yang didambakan oleh setiap manusia. Hal itu dikarenakan dengan barang-barang tersebut dapat menaikan derajat atau strata sosial dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi tentu saja dalam memperoleh kekayaan atau barang yang diinginkan dengan jalan yang benar. Karena tidak jarang seseorang rela merampok, mencuri demi memperoleh barang yang diinginkan.
Setiap manusia memiliki keinginan, segala tindakan atau tingkah laku  pasti didasari keinginan. Keinginan yang dapat menyebabkan kemerosotan moral adalah keinginan yang didasarkan keinginan nafsu yang didasari oleh keserakahan, karena keinginan terhadap sesuatu yang tidak didasari oleh kemampuan akan mempengarahi tindakan dan perbuatan. Contohnya ada orang berkeinginan memiliki sepeda motor dan uang banyak, tetapi ia tidak memeliki uang untuk membeli sepeda motor karena penghasilannya hanya cukup untuk dimakan satu hari itu saja, tetapi keinginan untuk memiliki sepeda motor tidak dapat dikendalikan, akhirnya untuk memenuhi keinginannya ia nekat mencuri sepeda motor oarang lain. Dari contoh di atas sudah jelas bahwa yang mendasari perbuatan seseorang adalah keinginan.
Tingkah laku manusia yang semakin brutal dan tidak sesuai dengan kemoralan, menyebabkan ajaran kebenaran atau ajaran agama ditinggalkan. Orang yang melakukan perbuatan jahat hanya berdasarkan keinginan nafsu, mengejar keinginan atau kenikatan duniawi yang dilakukan dengan berbagai usaha adalah tidak benar. Maka hendaknya seseorang berbuat harus sesuai dengan norma yang berlaku, sesuai dengan nilai kemoralan maka akan dapat hidup harmonis dan bahagia dalam dunia ini tanpa adanya kekerasan.

2. Hilangnya Kekayaan Secara Nyata

Harta kekayaan yang tidak akan dapat dipertahankan dalam waktu yang lama apabila pemiliknya tidak hati-hati. Dan dalam Anguttara Nikaya di uraikan bahwa” Seseorang tidak mencari dan menambah miliknya yang hilang, seseorang tidak memperbaiki miliknya yang rusak, seseorang tidak bersikap sedang (secukupnya), dan memiliki teman yang bermoral buruk untuk membantu rumah tangganya”. (Wowor, 2004: 90).
Sangat jelas sekali apabila seseorang selalu menuruti keinginannya untuk memenuhi keinginannya terhadap barang atau benda yang dinginkan atau seseorang dalam kehidupannya selalu hidup berfoya-foya, misalnya berjudi, mabuk-mabukan, sering pergi ketempat-tempat yang tidak pantas, atau selalu mencari keramaian, tanpa berfikir untuk mencari kekayaan, maka harta yang dimilikinya akan cepat hilang atau habis.

Sumber: http://larosberbagibersama.blogspot.co.id